LUBANGSA SELATAN – Hadirnya ajang lomba sepak bola terakbar di seantero jagat raya pada 13 Juni sampai 13 Juli mendatang membuat khawatir lembaga-lembaga pesantren yang melarang santrinya untuk menonton hiburan (televisi). Untuk mengantisipasi banyaknya pelanggaran santri, pengurus Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan menyediakan televisi untuk santri yang mau menonton dengan syarat mereka harus berjemaah salat Subuh. Selain itu mereka harus membayar uang kontribusi sekecil 3 ribu rupiah. “Kami (pengurus pesantren) menyediakan tempat untuk nobar (nonton bareng) Piala Dunia 2014 di aula Madrasah Diniyah, dengan syarat santri harus ikut salat berjamaah Subuh. Kalau tidak berjemaah maka kami akan memberedel nobar tersebut. Selain itu, santri yang ingin menonton harus membayar uang 3 ribu rupiah untuk satu orang. Santri bisa nonton jika tidak berbenturan dengan kegiatan pesantren,” ungkap ketua pengurus Dedi Anwari di depan para santri Rabu malam (11/6).
Koordinator nobar Piala Dunia 2014 Roni Muliyadi menuturkan bahwa semua kebutuhan nobar seperti televisi dan antena, itu didapat dari hasil pinjaman. Dengan demikian, uang kontribusi yang didapat dari santri akan diberikan kepada pemilik barang pinjaman sebagai uang sewa barang. Selain itu juga untuk dibelikan kawat pengikat tiang antena. Roni menambahkan bahwa santri bisa menonton sampai putaran final. “Kami pinjam televisi dan antena itu selama satu bulan. Jadi santri bisa nonton sampai putaran final tanggal 13 Juli mendatang,” tambahnya.
Hingga berita ini diturunkan, ratusan santri berjubel memenuhi ruang Aula Madrasah Diniyah PPA. Lubangsa Selatan menyaksikan pertandingan Brasil dan Kroasia, pembukaan Piala Dunia 2014. [Iet/Vil/Hari].







Posting Komentar