Oleh Daifur Rahman
Maulid Nabi atau yang kita kenal dalam istilah Madura dengan nama “bulan molot”/“Molotan” adalah suatu perayaan yang dilakukan dalam rangka memperingati hari lahirnya baginda Nabi Muhammad Saw. Perayaan tersebut sudah biasa dilaksanakan oleh masyarakat Islam secara umum dan para santri di berbagai Pondok Pesantren setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal dalam kalender Hijriyah, yang disebut “Molot Agung”. Kita memperingatinya dengan cara membaca Maulidun al-Diba’i atau puji-pujian kepada Rasulullah Saw. secara bersama-sama yang dipimpin oleh tokoh masyarakat/Kiai di daerah masing-masing.
Namun kemasan acara perayaan Maulid Nabi tersebut berbeda-beda. Ada yang berbentuk pengajian umum, ada yang sederhana dengan cara berkumpul bersama-sama di Mushalla atau Masjid, kemudian ada yang mengundang para kerabat-famili dan tetangga dekatnya ke rumah masing-masing untuk membaca salawat. Lalu yang menjadi ciri khas dari perayaan tersebut adalah setelah membaca Maulidun al-Diba’i, kita makan bersama aneka ragam buah-buahan yang telah disiapkan sebelumnya. Kita melakukan semua itu sebagai bentuk syukur kita kepada Allah Swt. yang telah melimpahkan nikmat-Nya kepada kita semua dan telah mengutus Nabi Muhammad Saw. ke dunia. Karena Nabi Muhammad telah membawa kita dari dunia yang gelap gulita yaitu zaman Jahiliyah kepada jalan yang lurus yaitu jalan yang penuh dengan cahaya Iman dan Islam.
Perayaan akan kelahiran Nabi Muhammad sudah Beliau peringati sendiri sejak Beliau masih hidup. Beliau memperingati akan kelahirannya dengan cara berpuasa setiap hari Senin, karena hari tersebut adalah hari kelahiran Beliau. Namun untuk saat ini kita bisa memperingatinya dengan berpuasa, membaca al-Qur’an dan dengan perayaan yang bermacam-macam dan kemasan yang berbeda pula, seperti membaca Maulidun al-Diba’i yang sudah biasa kita lakukan. Isi dari Maulidun al-Diba’i tersebut adalah puji-pujian serta sanjungan terhadap Nabi Muhammad Saw.
Memang Nabi Muhammad tidak meminta para sahabat untuk memuji Beliau, dan Nabi Muhammad tidak pernah memuji dirinya sendiri. Jadi Nabi Muhammad tidak pernah melakukan dan tidak pernah memerintahkan. Akan tetapi ada sahabat yang bernama Ka’ab bin Zuhaid bin Abi Salma memuji-muji Nabi Muhammad di hadapan Beliau, yang di antara isi pujian tersebut adalah “Sungguh Rasulullah adalah orang yang gagah dan berani, yang bisa memisahkan antara yang haq dan yang bathil, antara kebenaran dan kesalahan. Datang dari suku Quraisy, dari kota Mekkah, yang terkenal orangnya, gagah berani ketika di medan perang tapi sangat sopan santun ketika di luar medan perang dan sangat dermawan”. Kalau memuji-muji itu tidak boleh, maka mestinya Rasulullah mengatakan kepada sahabat tersebut, janganlah kamu memuji-muji saya karena itu adalah bid’ah atau musyrik. Akan tetapi setelah Beliau dipuji Beliau tersenyum, senang dan menerima akan pujian tersebut. Dan malah sahabat yang memuji Beliau itu diberi hadiah selimut yang dipakai oleh Beliau pada saat itu. Hal yang demikian adalah termasuk hadist Taqririyyah (ketetapan nabi). Oleh karena itu membaca Maulidun al-Diba’i itu hukumnya boleh, bukan termasuk perbuatan yang bid’ah.
Ada beberapa keutamaan atau kejadian yang ada pada Bulan Maulid. Di antaranya pada waktu itu sebagaimana yang diceritakan dalam surat al-Fil, bahwa raja Abrahah dan bala tentaranya ingin menghancurkan ka’bah. Akan tetapi usaha mereka gagal karena Allah mengutus burung Ababil dari neraka yang membawa batu yang terbuat dari tanah liat dan berapi lalu menjatuhkannya kepada mereka. Dengan kehendak Allah mereka mati bagaikan daun-daun yang dimakan ulat sebelum mereka sempat menghancurkan ka’bah. Pada waktu itu pula, semua tumbuh-tumbuhan berbuah karena sangat senang akan kelahiran Nabi Muhammad dan ikan-ikan pun saling berbisik-bisik satu sama lain membericarakan kelahirannya. Kemudian pada setiap hari Senin, dengan syafaat Nabi Muhammad, Abu Lahab diringankan dari siksanya dengan cara diberi air minum. Syafaat tersebut dia dapatkan karena pada waktu dia masih hidup dan mendapat kabar bahwa Nabi Muhammad telah lahir, dia sangat senang.
Tidak heran apabila Michael H. Hart memposisikan Nabi Muhammad sebagai tokoh paling berpengaruh nomor satu di dunia. Hal ini karena Michael menilai bahwa dialah Nabi Muhammad, satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa baik dari segi agama maupun dari segi duniawi. Dari segi agama misalnya, Beliau berhasil mengajak orang-orang musyrik dan orang-orang kafir untuk masuk Islam, sekalipun pada awalnya Beliau mendapatkan banyak tantangan. Namun hal tersebut tidak membuat Beliau patah semangat sehingga Beliau berhasil menjadikan Islam sebagai agama yang disegani banyak orang. Dari segi duniawi misalnya, dalam bidang ekonomi, Beliau adalah orang kaya dan orang sukses. Dalam bidang kemiliteran, Beliau adalah orang yang ahli strategi perang. Dalam bidang kenegaraan, Beliau adalah pemimpin yang tangguh dan bijaksana, yang tidak hanya mementingkan kepentingan pribadi akan tetapi Beliau mendahulukan kepentingan negara dan masyarakat. Beliau juga adalah orang yang murah hati. Itu terbukti ketika penaklukan Mekkah dan orang-orang Mekkah pada saat itu mengaku kalah, Beliau mengampuni orang-orang Mekkah dan Beliau mengatakan bahwa “Hari ini adalah hari pengampunan”. Beliau masih mengampuni orang-orang Mekkah sekalipun mereka benar-benar orang yang bersalah. Beliau adalah contoh dari pemimpin yang arif dan bijaksana. Beliau adalah suri tauladan kita, yang mana hal itu patut kita contoh dan kita amalkan pada saat sekarang ini. Kini sudah empat belas abad lamanya Beliau meninggal dunia. Akan tetapi pengaruh Beliau masih tetap kuat dan mendalam serta mengakar sampai saat ini. []







Posting Komentar